
|
|
RESUME BUKU TEORI PUBLIC RELATIONS PERSPEKTIF BARAT & LOKAL (APLIKASI PENELITIAN DAN PRAKTIK)
Monday, 10 April 2017 | 17:19 | 0 chocolate
Silvia Aria Widyaningrum
155120201111079
A.KOM.PR-4
RESUME
BUKU TEORI PUBLIC RELATIONS PERSPEKTIF BARAT & LOKAL (APLIKASI PENELITIAN
DAN PRAKTIK)
TEORI
SISTEM, BOUNDARY SPANNING, TEORI RELATIONSHIP MANAGEMENT
1. Teori sistem
Manusia dalam kesehariannya melakukan interaksi
sosial. Interaksi sosial yang dilakukan menghasilkan hubungan sosial. “Teori
sistem menjelaskan esensi dasar kehidupan, yaitu pentingnya menjalin hubungan
sosial. Menjalin hubungan sosial yang baik merupakan hasil (output) dari suatu
interaksi sosial, dalam hal ini yaitu interaksi antara organisasi dan publiknya”
(Kriyantono, 2014, h. 77). Saat teori sistem dipakai dalam organisasi, maka
organisasi adalah suatu subsistem dalam sistem sosial yang ada dan lebih
kompleks. Organisasi menyesuaikan diri pada lingkungannya, jika lingkungannya
berubah maka organisasi mengikuti. Teori sistem fokus pada kualitas komunikasi
yang dijalankan pada sistem dengan sistem-sistem lainnya.
Seperti tubuh manusia, teori sistem juga memerlukan
keterhubungan antar semua elemen dalam suatu sistem. Teori sistem kemudian
diadaptasi oleh teori excellence dan
menjadi dasar teori excellence. Teori
sistem berguna untuk memahami proses public
relations. Menurut Kriyantono (2014, h. 78), teori ini tidak fokus kepada
pesan yang secara strategis diperlukan dalam penyesuaian lingkungan, sehingga
informasi dapat mengalir dan relasi dapat terjadi secara seimbang.
Dalam teori sistem, organisasi dianggap sebagai
suatu sistem dan di dalamnya terdapat interaksi sosial antara satu elemen
dengan elemen yang lain. Kreps (1990, h. 94, dikutip di Kriyantono, 2014, h.
79) mengatakan bahwa interaksi dalam organisasi digunakan untuk menyesuaikan
dan beradaptasi dengan lingkungannya, pencapaian tujuan organisasi bergantung
pada kemampuan organisasi beradaptasi sesuai lingkungannya. Elemen dalam
organisasi yang menjadi kunci kualitas organisasi adalah individu, struktur,
kelompok fungsional, dan teknologi serta peralatan. Elemen tersebut merupakan
sumber daya yang ada dalam suatu organisasi. Organisasi perlu untuk mengelola
dan memproses input agar output yang dikeluarkan sesuai dengan tujuan
organisasi. Interaksi yang baik diperlukan untuk memproses hal tersebut, dengan
komunikasi sebagai kuncinya. Komunikasi dapat menciptakan proses kerja sama
yang baik dalam organisasi, sehingga proses pengoordinasian dapat berjalan
dengan baik dan tujuan organisasi bisa tercapai. Public relations dapat menggunakan teori sistem sebagai acuan untuk
membantu mereka dalam memanajemen dan mengelola komunikasi dalam manajemen
untuk membantu interaksi antara organisasi dan publiknya. Public relations berlaku sebagai fungsi komunikasi dalam organisasi.
2. Boundary
Spanning
Dalam
praktiknya, “Public relations mempunyai
fungsi sebagai penghubung antara organisasi dengan lingkungannya” (Kriyantono,
2014, h. 86), yang kemudian dikenal dengan istilah “boundary spanning”. Fungsi boundary
spanning membantu public relations untuk
mengumpulkan informasi yang diperoleh dari lingkungannya. Dalam organisasi
pasti ada kelompok dominan (kelompok yang mempunyai pengaruh pada organisasi, public relations masuk di dalamnya) dan
bertugas sebagai pembuat keputusan dalam organisasi. Pengambilan keputusan
dalam organisasi memerlukan informasi yang didapat dari lingkungan organisasi
tersebut. Boundary spanning juga
berfungsi sebagai sarana public relations
dalam memberikan informasi organisasi kepada publiknya. Boundary spanning digambarkan sebagai
batasan yang memutar antara organisasi dan publiknya, yaitu organisasi
memberikan informasi organisasi kepada publik, dan publik juga mempunyai
informasi yang kemudian dimonitor oleh public
relations untuk membuat keputusan dalam organisasi agar organisasi bisa
menjadi lebih baik. Maka dari itu boundary
spanning membentuk komunikasi dua arah antara organisasi dan publiknya.
Menurut
Kriyantono (2014, h. 87), aktivitas public
relations dalam melaksanakan fungsi boundary
spanning mencakup:
·
Public
relations dalam menjelaskan informasi organisasi kepada
publiknya. Hal ini dilakukan oleh praktisi public
relations untuk menghindari kesalahpahaman dalam persepsi publik kepada
organisasi. Informasi yang dibagikan mencakup filosofi, kebijakan, program, dana
pa yang dipikirkan manajemen.
·
Public
relations dalam memonitor lingkungannya (publik) untuk
mengetahui isu-isu apa saja yang ada di lingkungan yang dapat mempengaruhi
aktivitas organisasi, kemudian public
relations mengidentifikasi dan memecahkan permasalahan yang muncul.
·
Public
relations dalam membangun komunikasi dua arah.
3. Teori Relationship Management
Fokus
teori ini yaitu membahas proses manajemen relasi antara organisasi dan
publiknya, baik secara internal maupun eksternal. Terdapat keseimbangan
kepentingan antara publik dan organisasi. Teori ini juga dikenal sebagai teori organizational-public relationship (OPR).
Teori manajemen relasi ini menurut Gregory (2005, dikutip di Phillips, 2003, h.
213, dikutip di Kriyantono, 2014, h. 277) merupakan “upaya organisasi membangun
relasi dengan publiknya untuk menciptakan relasi yang positif dalam dua arah
(organisasi ke publik dan publik ke organisasi).” Relasi merupakan fokus inti
dari teori ini. Aktivitas public
relations fokus pada relasi organisasi dengan publiknya. “Dalam proses
relasi terdapat pertukaran persepsi, atribut, dan identitas yang berbeda, dan
antara organisasi dan public dimungkinkan slaing memengatuhi. Tetapi proses
pertukaran ini tetap diimbangi semangat empati, kesepahaman, dan berusaha
saling menguntungkan” (Kriyantono, 2014, h. 277). Adanya kesepahaman dalam
hubungan atau relasi antara organisasi dengan publik merupakan hal yang baik
karena kemudian relasi bisa dilakukan jangka panjang, persepsi publik yang
positif, loyalitas publik kepada organisasi, dll.
Berikut
prinsip dasar dalam membangun relasi dengan public menurut Ledingham (2005, h.
742-743, dikutip di Kriyantono, 2014, h. 278):
1. Fokus
utama public relations yaitu
membangun relasi.
2. Relasi
yang berhasil jika didasarkan upaya meraih keuntungan bagi kedua pihak,
organisasi dan publik.
3. Organization-public relationships bersifat
dinamis sehingga selalu berubah setiap saat.
4. Relasi
didorong kebutuhan dan keinginan dari organisasi dan publik. Kualitas relasi tergantung
pada persepsi terhadap tingkatan sejauh mana harapan dapat dipenuhi.
5. Manajemen
OPR yang efektif akan meningkatkan pemahaman dan keuntungan bagi organisasi dan
publik.
6. Keberhasilan
OPR diukur berdasarkan kualitas relasi, bukan produksi dan penyebaran pesan.
7. Komunikasi
yaitu lat strategi memanajemen relasi, tetapi komunikai tidak dapat menjaga
relasi jangka panjang tanpa diiringi perilaku organisasi.
8. OPR
dipengaruhi oelh sejarah relasi, sifat interaksi, frekuensi pertukaran, dan
resiprositas (timbal balik).
9. OPR
dikategorisasikan ke dalam beberapa jenis, yaitu relasi personal (interaksi
personal antara perwakilan organisasi dan anggota publik), relasi professional (interaksi
yang terjadi karena alasan keprofesionalan), relasi komunitas (relasi yang
didasarkan persepsi bahwa organisasi mendukung kepentingan komunitas), baik
bersifat simbolis (communication driven)
maupun perilaku (program driven).
10. Penciptaan
relasi dapat terjadi dalam berbagai aspek kajian dan praktik public relations.
TEORI
MATHEMATICAL OF INFORMATION, TEORI UNCERTAINTY REDUCTION
1. Teori Mathematical of Information
Teori
ini menggambarkan proses komunikasi linier antara komunikan dan komunikator. Model ini mempunyai konsep yang saling
berkaitan, yang diperkenalkan oleh Shannon dan Weaver, yaitu konsep gangguan
(noise), transmitter, sumber (source), signal, receiver, destination, entropi,
dan informasi (Kriyantono, 2014).
2. Teori Uncertainty Reduction
Teori
ini menyatakan bahwa hidup itu penuh dengan ambiguitas. Teori ini menjelaskan
bagaimana mengurangi ketidakpastian melalui komunikasi, dengan memahami orang
lain dan diri sendiri, dan membuat prediksi tentang perilaku orang lain saat
pertama kali bertemu dengan orang itu.
Seseorang
memerlukan informasi untuk mengurangi ketidakpastiannya. Berdasarkan pendapat
Berger (1979, dikutip di Flanagin, 2007; Hammer,dkk., 1998, dikutip di
Kriyantono, 2014, h. 144) berikut adalah beberapa cara untuk mengurangi
ketidakpastian, yaitu:
1. Strategi
Pasif (social comparison)
Strategi ini terjadi jika seseorang
hanya mengamati perilaku orang lain.
2. Strategi
Aktif ( seeking information)
Jika seseorang aktif mencari
informasi tentang orang lain melalui pihak ketiga, misal bertanya kepada si Z
tentang I.
3. Startegi
interaktif ( verbal interrogative)
Cara mendapatkan informasi melalui
setting interaksi, yaitu dengan secara langsung bertanya dengan orag ynag mejdi
target komunikan.
Informasi
adalah kunci untuk menguragi ketidakpastian atau keragu-raguan akan situasi
tertentu. Praktisi public relations perlu
menampilkan citra yang positif untuk organisasinya. Informasi yang diberikan
kepada publik akan organisasi haris lengakap dan tidak sepotong-potong agar
tidak menimbulkan pemahaman yang keliru atau ambigu.
TEORI
EXCELLENCE IN PUBLIC RELATIONS, TEORI
CONTINGENCY OF ACCOMMODATION IN PUBLIC
RELATIONS
1. Teori Excellence in Public Relations
Teori
ini menjelaskan bahwa semakin baik seorang praktisi PR, maka semakin excellence pula perusahaan atau
organisasinya. Dalam teori ini dijelaskan karakter organisaso dalam model
asimetris dan simetris. Model asimetris membuka komunikasi dua arah dengan
mengubah opini publik dari tidak setuju menjadi setuju dengan tidak merubah
program public relations nya,
melainkan mengumpulkan berbagai informasi dan membuat startegi sehingga public menjadi
setuju. Berbeda dengan model simetris, model ini setuju dengan opini publiknya,
sehingga akan mengintrospeksi program yang dibuat lalu merubah program
sebelumnya. Teori excellence mensyaratkan
agar organisasi berkeinginan mengubah perilakunya dan manajer public relations harus menjadi bagian
dari proses pengambilan keputusan dalam organisasi (Kriyantono, 2014, h. 105).
2. Teori Contingency of Accommodation in Public Relations
Teori
contingency of accommodation in public
relations (CA) berkembang sebagai kritik atas model two-way symmetric pada teori excellence
dalam public relations
(Kriyantono, 2014). CA dianggap merupakan potret yang lebih relaistis dari
strategi atau model PR. Menurut teori CA, win-win
solutions yang ditawarkan model two-way
symmetric tidak selamanya menjamin kondisi ideal bagi organisasi. Teori ini
secara umu menjelaskan hubungan organisasi dengan publiknya yang tidak dapat
benar-benar mencapai model two-way symmetric.
Akomodasi diartikan sebagai penyesuaian diri terhadap lingkungan, advokasi
diartikan sebagai upaya memberikan dukungan atau pembelaan terhadap kebijakan
organisasi.
SITUASIONAL
THEORY OF THE PUBLICS, STAKEDOLDER THEORY
1. Situasional Theory of the Publics
“Teori
ini bermanfaat untuk mengidentifikasi publik sehingga dapat membuat kategori publik
sehingga dapat membuat kategori publik berdasarkan perilaku komunikasi dari
individu dan efek komunikasi yang diterima individu tersebut” (Kriyantono,
2014, h. 152). Teori situasional ini membantu public relations untuk membuat target sasaran yang lebh spesifik,
sehingga pesan komunikasinya benar-benar sesuai dengan kebutuhan sasaran. Secara
umu, teori situasionak ini mendeskripsikan tentang sikap sreta perilaku
komunikasi dari public terhadap organisasi.
Teori
ini dapat membantu praktisi public
relations mengkalsifikasikan public berdasarkan persepsi, ide, sikap,
perilaku terhadap organisasi baik terhadap program, produk, maupun ketika
terjadi situasi kritis. “Teori ini membantu praktisi public relations untuk menjelasakan mengapa ada publik yang
bersifat aktif terhadap satu isu, publik yang lain bersifat aktif terhadap
beberapa isu, da nada yang tidak mau tahu. Praktisi public relations dapat merencanakan strategi komunikasinya lebih
akurat dan efektif jika mengetahui seberapa aktif publik dalam mencari
informasi” (Lattimore, dkk., 2007, dikutip di Kriyantono, 2014, h. 160). Teori
STP dapat dijadikan acuan untuk bersikap lebih etis dalam melaksanakan
kampanye.
2. Stakeholder
Theory
“Teori
stakeholder memebrikan pengetahuan
teoritis dasar bagi praktisi public
relations untuk memahami bagaimana individu, kelompok, dan organisasi
eksternal memengaruhi aktivitas organisasi tempat dia bekerja” (Kriyantono,
2014, h. 57). Teori ini membahas tentang bagaimana organisasi membangun relasi
dengan publik di sekitar organisasi dan terkait dengan orgaisasi. Dengan melaksanakan
tanggung jawab sosialnya organisasi dimungkinkan memperoleh keuntungan.
Perspektif
public relations, mengutip Bussy
(2008: 4816), Mainardes, dkk. (2011:233) Heath (2005:809), dan Pesqueux 7
Damak-Ayadi (2005: 9), teori stakeholder sering digunakan dalam tiga pendekatan
teori (dikutip di Kriyantono, 2014, h. 58):
1. Teori
stakeholder deskriptif, yaitu untuk
mendeskripsikan karakteristik dan perilaku atau aktivitas actual yang dikerjakan
organisasi.
2. Teori
stakeholder instrumental, yaitu
memahami cara mencapai tujuan organisasi, yaitu keterkaitan antara strategi
manajemen stakeholder dan pencapaian tujuan organisasi seperti meningkatkan
organisasi seperti meningkatkan keuntungan, menghindari tuntutan hokum, dan
mencapai pertumbuhan.
3. Teori stakeholder
normatif, yaitu untuk merancang suatu regulasi tata cara membangun relasi yang
didasarkan landasan etis dan prinsip filosofis organisasi, seperti
mengembangkan tanggung jawab organisasi.
TEORI
MOTIVASI DAN GAYA MANAJERIAL, TEORI STRUKTURASI
1. Teori Motivasi dan Gaya Manajerial
Proses
komunikasi menjadi unsur utama dalam sebuah organisasi. Perlu pemahaman
manajerial dalam proses komunikasi pada teori motivasi. “Motivasi secara
sederhana dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk
melakukan tindakan tertentu” (Kriyantono, 2014, h. 243). Kemampun memotivasi diperlukan
seorang praktisi PR agar karyawan dapat melaksanakan apa yang diperintahkan dan
menjalankan tugasnya dengan baik.
Dalam
teori hierarki kebutuhan menurut Abraham Moslow, karyawan akan merasa
termotivasi apabila semua kebutuhannya telah terpenuhi, dengan begitu kinerja
karyawan pun akan semakin baik. Hierarki kebutuhan: (1) kebutuhan fisiologis,
(2) kebutuhan keselamatan atau rasa aman, (3) Kebutuhan sosial, (4) kebutuhan
akan penghargaan diri (self-esteem),
(5) kebutuhan akan aktualisasi diri, kebutuhan untuk mengekspresikan diri,
kebutuhan untuk berprestasi.
Douglas
McGregor (1967, dikutip di Kriyantono, 2014, h. 244) mengenalkan dua macam
teori tentang motivasi yaitu teori X dan teori Y. Teori X berasumsi bahwa
setiap individu mempunyai pembawaan sifat yang malas, tidak termotivasi untuk
bekerja, karena itu pemberian motivasi dari pihak luar sangatlah diperlukan,
misalnya uang sebagai alat motivasi. Berbeda dengan teori X, teori Y berasumsi
bahwa individu secara alami mempunyai keinginan untuk bekerja. “Manajer yang
menganut teori Y akan beraggaoan bahwa karyawan mempunyai kebutuhan yang
beraneka ragam. Tugas manajer yaitu mengatur dan mengelola jalannya organisasi
sedemikian rupa, sehingga baik organisasi maupun anggotanya dapat terpenuhi
kebutuhannya” (Kriyantono, 2014, h. 245).
Teori
V memandang proses manajerial sebagai proses relasi secara dua arah. “Proses
ini terjadi bila tujuan dari manajer diarahkan untuk dan dieksekusi dalam
tindakan karyawan” (Kriyantono, 2014, h. 246). Dalam teori V ini, manajer dan
karyawan mempunyai peran yang sama, artinya jika satu tidak ada yang lain juga
tidak ada. “Manajemen merupakan hubungan segitiga antara manajer, proses
mengelola (managing), dan yang dikelola (manage). Hubungan ini dinyatakan dalam
rumus teori V” (Kriyantono, 2014, h. 246):
Proses manajemen yang dinamis (V) yaitu suatu fungsi manajer sebagai subjek
(M) mengarahkan (D) karyawan (manage)
sebagai objek (m) untuk mengaktualisasikan (a) maksud dari manajer tadi.
Berikut merupakan empat gaya manajerial yang digagas
oleh Likert (Kriyantono, 2014, h. 247-250):
1.
Sistem 1 : Gaya
penguasa mutlak (the exploitative
authoritative)
2.
Sistem 2 : Gaya
semi mutlak ( the benevolent
authoritative system)
3.
Sistem 3 : Gaya
penasihat ( the consultative system)
4.
Sistem 4 : Gaya
pengajak serta (the participative
management system)
Sana=gat penting bagi seorang praktisi
PR untuk memahami apa yang menjadi motivasi karyawannya. Dengan begitu tugas publis relations selanjutnya adalah:
1.
Memahami apakah
kebutuhan sudah terpenuhi atau belum, seberapa besar terpenuhinya, kondisi apa
yang menjadi kendala.
2.
Public relations menyampaikan
kebutuhan karyawannya kepada pihak manajemen.
3.
Merancang programkomunikasi
yang bisa mendorong peningkatan motivasi karyawan.
4.
Mendorong ikim
komunikasi organisasi yang kondusif.
2. Teori Strukturasi
Individu
mempunyai kemampuan untuk megubah struktur sosial. “Struktur yaitu
aturan-aturan tertulis atau tidak, formal atau tidak, dan sumber daya yang
digunakan menjaga keberlangsungan kelompok atau organisasi” (Kriyantono, 2014,
h. 234). Norma kelompok, jaringan komunikasi, aturan pergaulan dapat
mempengaruhi perubahan struktur yang ada sebelumnya. Proses memproduksi dan
mereproduksi strukrtur disebut strukturasi. Sistem sosial adalah hasil dari
perilaku komunikasi individu dan struktur sosial perilaku sosial. Teori strukturasi
kemudian dipakai untuk menerangkan proses komunikasi dalam organisasi. Di dalam
organisasi pastilah ada struktur, struktur tersebut bisa berbentuk divisi,
deskripsi pekerjaan, hierarki, dll.
Meski
sama-sama mengkaji organisasi, teori strukturasi memiliki definisi yang berbeda
tentang sistem dengan teori sistem. “Menurut teori strukturasi, “suatu sistem
bukanlah berarti sistem dari objek (seperti bagian-bagian mesin mobil),
melainkan sestem di sini berarti sistem dari “human practices”, yaitu pola aktivitas yang mempunyai makna bagi
orang-orang yang ada di dalamnya yang mengorganisasi aktivitas-aktivitas
orang-orang itu dalam menjalin relasi satu dengan lainnya” (Poole & McPhee,
2005, h. 174, dikutip di Kriyantono, 2014, h. 235). Organisasi sifatnya
dinamis, maka dari itu struktur sifatnya juga tidak permanen.
Teori
struturasi dalam praktik public relations,
intinya bahwa organisasi berpandangan bahwa anggota dan struktur nya dinamis. Struktur
harus dievaluasi. Proses public relations
dipandang sebagai proses yang mendukung semua level di dalam organisasi,
tujuannya adalah untuk memberi peluang anggota untuk mengkonstruksi realitas
sosial sehingga menciptakan pengertian bersama. “Peran praktisi yaitu
mengakomodasi dan mengarahkan proses strukturasi agar tidak melenceng dari
tujuan organisasi” (Kriyantono, 2014, h. 241).
DAFTAR
PUSTAKA
Kriyantono, R. (2014). Teori Public Relations Perspektif Barat & Lokal. Jakarta:
Kencana Prenadamedia.
|