
|
|
Review Jurnal “Developing a Culturally-Relevant Public Relations Theory for Indonesia”
Tuesday, 11 April 2017 | 08:13 | 0 chocolate
Silvia Aria
Widyaningrum
155120201111079
A.KOM.PR-4
Review Jurnal “Developing
a Culturally-Relevant Public Relations Theory for Indonesia”
Berikut
adalah hasil review saya terhadap jurnal “Developing
a Culturally-Relevant Public Relations Theory for Indonesia” yang ditulis
oleh Rachmat Kriyantono dan Bernard McKenna. Review ini bertujuan untuk
mengetahui bagaimana public relations yang
ada pada negara Timur atau Asia, dan menganalisis praktik public relations di negara Timur. Jurnal ini membahas tentang
perkembangan teori public relations melalui
perspektif negara timur, khususnya Indonesia. Teori public relations dari perspektif Barat terkadang tidak semuanya
cocok dengan keadaan masyarakat Asia, khusunya Indonesia dikarenakan sistem
sosial dan filosofi yang berbeda. Public
relations merupakan suatu bagian dari perusahaan atau organisasi yang
bertugas memperkenalkan visi dan misi perusahaan pada masyarakat luas maupun
sekitar, dalam hal ini membahas dimana perkembangan perusahaan haruslah
dilaporkan pada masyarakat suapay tidak terjadi kesalahpahaman atau
miskomunikasi, tidak terjadi ketimpangan, yang dapat dipengaruhi masyarakat
sekitar.
Dalam
jurnal ini saya temukan bahwa “The
academic study of public relations quite often focuses more on practical activities
which is known as public relations as a practice or as a tool” (Ardianto,
2004; Skerlep, 2001, dikutip di Kriyantono & McKenna, 2017) yaitu public relations sendiri saat ini
termasuk dalam disiplin ilmu yang baru, dan akan lebih baik jika fokusnya tidak
pada praktiknya saja, namun teori juga tidak kalah penting karena teori
berperan sebagai acuan dalam kegiatan praktik seorang praktisi public relations. Selain menjadi acuan
untuk praktisi public relations, kebutuhan
teori public relations untuk dijadikan
sebuah disiplin ilmu juga dibuktikan dalam berbagai studi dan penelitian.
Edward Bernays dan Edward Robinson berpendapat bahwa “public relations should be both a social and applied behaviour science
because it integrates theoretical and practical elements” (Culbertson,
Jeffers, Stone, & Terrell, 1993; J. E. Grunig & Hunt, 1984, dikutip di
Kriyantono & McKenna, 2017).
Pembelajaran
teori public relations dalam
negara-negara di Asia diketahui masih banyak yang menggunakan teori
berorientasi perspektif Barat. Dissanayake’s melakukan penelitian yang
menyatakan bahwa 71 persen materi pembelajaran masih menggunakan teori basis
Amerika (1988, dikutip di Kriyantono & McKenna, 2017). Teori dengan perspektif
Barat faktanya telah diterapkan secara global untuk kegiatan pembelajaran komunikasi
sejak lama. Meskipun sudah ada banyak artikel maupun jurnal yang membahas
tentang public relations dengan
melihat perspektif Timur/Asia dalam sepuluh tahun terakhir, namun masih banyak
praktik-praktik public relations yang
berorientasi perspektif Barat. Terdapat beberapa negara di Asia yang sudah
mengembangkan teori public relations dengan
perspektif Asia contohnya seperti Teori Komunikasi di India. Masyarakat Asia
memiliki berbagai budaya dan kearifan lokal sendiri-sendiri, yang pada umumnya
memiliki karakteristik umum yang tidak mudah untuk diuji dengan teori
perspektif Barat. Artikel/jurnal ini bertujuan untuk merangsang perkembangan
teori public relations dengan menghadirkan
perspektif Indonesia sebagai dasar membangun teori dalam konteks masyarakat di
Indonesia.
Di
dalam masyarakat Indonesia, public
relations dapat dilakukan dengan mengacu pada kearifan lokal masyarakat
Indonesia sendiri, sehingga dalam penerapannya tidak perlu memakai semua
prinsip yang berlaku di negara-negara Barat. Melalui teori ini, tradisi lokal
dan norma moral dalam suatu negara dapat dijaga, walaupun negara itu sendiri
sedang bertransformasi menuju gaya hidup dan ekonomi Barat. Dengan memakai
teori ini, proses teori dan praktek yang kebarat-baratan tersebut dapat
dibatasi, sehingga dapat tercipta tatanan global yang menghormati kearifan
lokal dan lebih bervariasi; tidak berkutat pada satu teori saja, yaitu teori
dengan perspektif Barat.
Umumnya,
Indonesia mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan budaya Asia.
Masyarakat Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda-beda karena Indonesia
juga mempunyai banyak suku. Dalam jurnal ini, penulis mengungkap kesamaan
dengan menjelaskan dua contoh kearifan lokal di Indonesia. Pertama, Indonesia
menempatkan iman untuk mengikuti jalan kebenaran. Agama adalah saluran untuk
mencapai keharmonisan/kebahagiaan sejati. Secara filosofis, harmoni adalah
bahwa manusia harus berjalan dalam jalan yang benar dengan status yang seimbang
yaitu sebagai makhluk Allah dan makhluk independen. Kedua, perasaan seseorang
tentang sesuatu atau situasi tertentu tidak lepas dari bagaimana interaksi
mereka dengan orang lain, yaitu komunikasi dipandang sebagai suatu proses yang
interdependensi/saling berhubungan antara manusia dengan alam. Maka dari itu
pola dan perilaku komunikasi yang bisa mengganggu harmoni dalam masyarakat
perlu dihindari.
Berikut
adalah dominasi perspektif Barat akan teori public
relations di Asia/negara Timur disebabkan oleh lima faktor menurut
Kriyantono dan McKenna (2017):
1.
Pengaruh
kolonisasi yang mendalam yang disebabkan terlambatnya pendidikan masyarakat
pribumi karena penjajahan. Kolonisasi memberikan pengaruh besar bagi masyarakat
Indonesia, yaitu membuat masyarakat Indonesia mempunyai kerangka berpikir
dengan pola Barat (Achmad, 2012, dikutip di Kriyantono & McKenna 2017).
2.
Kebebasan
berbicara dilarang pada masa pemerintahan otoriter rezim Soekarno dan Soeharto.
3.
Sangat
sedikitnya publikasi studi internasional public
relations dengan perspektif Indonesia (Hobart, 2006; Kriyantono, 2014;
Raharjo, 2013, dikutip di Kriyantono & McKenna, 2017), yang mengakibatkan
Indonesia tidak mempunyai dasar umum untuk teori komunikasi.
4.
Bahasa Inggris
adalah Bahasa dominan yang digunakan dalam penelitian komunikasi.
5.
Banyak orang
terpelajar Indonesia yang bersekolah di luar negeri yaitu Amerika Serikat,
Australia, Inggris, Perancis, German, dan mereka akhirnya sudah terpengaruh oleh
teori dengan perspektif Barat (Kriyantono & McKenna, 2017).
Dengan
kata lain, perspektif Barat telah mempengaruhi perspektif lokal melalui
edukasi, hiburan (entertainment), dan
teknologi komunikasi. Dalam kegiatan public
relations, kearifan lokal lah yang harus menjadi dasar dalam mengembangkan Corporate Social Responsibility (CSR)
sebuah perusahaan kepada masyarakat, yaitu dengan melakukan kegiatan yang
berguna dan bermakna bagi masyarakat.
Kearifan
kolak terwujud dalam bentuk budaya lokal yaitu seperti artefak, mitos, dongeng,
kepercayaan, kegiatan sosial dan norma-norma dalam masyarakat. Masyarakat
Indonesia memiliki budaya atau kebiasaan yang didapat dari kegiatan sosial
bersama, misalnya acara selametan, arisan, dan gotong royong. Dari kearifan
lokal ini, maka organisasi harus bisa dibangun sebagai dasra kebersamaan dan
kerja sama dan didasari kedekatan hubungan antar anggotanya. Bisa dibilang
bahwa karifan lokal di Indonesia ini adalah panduan komunikasi dan interaksi
masyarakat Indonesia. Kearifan lokal bersifat empiris dan merupakan panduan
pragmatis untuk memecahkan masalah.
Berikut
adalah konsep kegiatan public relations yang
sesuai dengan konsep kearifan lokal dan relevan dengan budaya Indonesia dan
juga sudah ada sejak lama yang saya temukan dalam jurnal ini:
1.
Musyawarah
mufakat yang digunakan sebagai pengambilan keputusan di Indonesia
Kearifan lokal
Indonesia konsisten dengan two-way
symmetric model, yaitu satu dari pihak organisasi, kedua dari pihak publik.
Public relations bertugas sebagai
perantara antara organisasi dengan apa yang menjadi kebutuhan publik. Fungsi
komunikasi digunakan sebagai alat negosiasi dan kompromisasi untuk membuat
solusi yang menghasilkan kepuasan secara mutual. Musyawarah mufakat merupakan langakah
pengambilan keputusan melalui dialog.
2.
Mempertahankan mutual relationship berdasarkan harmoni
pada sistem
Dengan
mempertahankan mutual relationship maka
PR bisa menjalin relasi yang baik dan berjalan lama. Maka dengan begitu akan
muncul loyalitas.
3.
Perspektif
Indonesia untuk menyatakan kebenaran
Dengan
menyajikan dan memberikan informasi yang benar, jujur, dan terbuka, seuah
organisasi akan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi. Selain itu
juga berguna untuk mendapatkan kepercayaan publik yang akan membuat publik mau
mendukung dan bekerjasama.
4.
Blusukan sebagai
alat untuk komunikasi
Blusukan membuat
masyarakat merasa dipedulikan dan dihargai oleh organisasi. Dengan begitu, hal
ini merupakan usaha organisasi untuk mengetahui publiknya secara dekat dan
berinteraksi langsung (Kriyantono & McKenna, 2017).
Praktisi
public relations di negara Timur
memasukkan unsur kearifan lokal sebagai patokan dalam pembuatan program dan
pelaksanaan program PR untuk masyarakat. Tidak lupa pula bahwa PR adalah
seorang yang harus bisa menjadi pembuat keputusan (decision making) untuk organisasi yang diwakilinya. Indonesia
memiliki banyak budaya dan adat yang perlu diperhatikan oleh praktisi PR agar
program sesuai dengan publiknya.
Dengan
ini bisa diartikan bahwa public relations
mempunyai dua fungsi yaitu pertama, PR sebagai fungsi manajemen, kedua, PR
bertanggung jawab untuk mengelola hubungan antara organisasi dan publiknya.
Dalam mengelola hubungan dengan publiknya, public
relations harus mempertahankan dan membentuk citra positif. Praktik public relations bisa diterapkan dengan
cara di atas (musyawarah, mempertahankan mutual
relationship, memberika informasi yang benar, dan blusukan).
DAFTAR PUSTAKA
Kriyantono, R. &
McKenna B. (2017). Developing a
Culturally-Relevant Public Relations Theory for Indonesia. Malaysian
Journal of Communication, Jilid 33(1) 2017: 1-16.
|