
|
|
Review Jurnal “Developing a Culturally-Relevant Public Relations Theory for Indonesia”
Tuesday, 11 April 2017 | 08:13 | 0 chocolate
Silvia Aria
Widyaningrum
155120201111079
A.KOM.PR-4
Review Jurnal “Developing
a Culturally-Relevant Public Relations Theory for Indonesia”
Berikut
adalah hasil review saya terhadap jurnal “Developing
a Culturally-Relevant Public Relations Theory for Indonesia” yang ditulis
oleh Rachmat Kriyantono dan Bernard McKenna. Review ini bertujuan untuk
mengetahui bagaimana public relations yang
ada pada negara Timur atau Asia, dan menganalisis praktik public relations di negara Timur. Jurnal ini membahas tentang
perkembangan teori public relations melalui
perspektif negara timur, khususnya Indonesia. Teori public relations dari perspektif Barat terkadang tidak semuanya
cocok dengan keadaan masyarakat Asia, khusunya Indonesia dikarenakan sistem
sosial dan filosofi yang berbeda. Public
relations merupakan suatu bagian dari perusahaan atau organisasi yang
bertugas memperkenalkan visi dan misi perusahaan pada masyarakat luas maupun
sekitar, dalam hal ini membahas dimana perkembangan perusahaan haruslah
dilaporkan pada masyarakat suapay tidak terjadi kesalahpahaman atau
miskomunikasi, tidak terjadi ketimpangan, yang dapat dipengaruhi masyarakat
sekitar.
Dalam
jurnal ini saya temukan bahwa “The
academic study of public relations quite often focuses more on practical activities
which is known as public relations as a practice or as a tool” (Ardianto,
2004; Skerlep, 2001, dikutip di Kriyantono & McKenna, 2017) yaitu public relations sendiri saat ini
termasuk dalam disiplin ilmu yang baru, dan akan lebih baik jika fokusnya tidak
pada praktiknya saja, namun teori juga tidak kalah penting karena teori
berperan sebagai acuan dalam kegiatan praktik seorang praktisi public relations. Selain menjadi acuan
untuk praktisi public relations, kebutuhan
teori public relations untuk dijadikan
sebuah disiplin ilmu juga dibuktikan dalam berbagai studi dan penelitian.
Edward Bernays dan Edward Robinson berpendapat bahwa “public relations should be both a social and applied behaviour science
because it integrates theoretical and practical elements” (Culbertson,
Jeffers, Stone, & Terrell, 1993; J. E. Grunig & Hunt, 1984, dikutip di
Kriyantono & McKenna, 2017).
Pembelajaran
teori public relations dalam
negara-negara di Asia diketahui masih banyak yang menggunakan teori
berorientasi perspektif Barat. Dissanayake’s melakukan penelitian yang
menyatakan bahwa 71 persen materi pembelajaran masih menggunakan teori basis
Amerika (1988, dikutip di Kriyantono & McKenna, 2017). Teori dengan perspektif
Barat faktanya telah diterapkan secara global untuk kegiatan pembelajaran komunikasi
sejak lama. Meskipun sudah ada banyak artikel maupun jurnal yang membahas
tentang public relations dengan
melihat perspektif Timur/Asia dalam sepuluh tahun terakhir, namun masih banyak
praktik-praktik public relations yang
berorientasi perspektif Barat. Terdapat beberapa negara di Asia yang sudah
mengembangkan teori public relations dengan
perspektif Asia contohnya seperti Teori Komunikasi di India. Masyarakat Asia
memiliki berbagai budaya dan kearifan lokal sendiri-sendiri, yang pada umumnya
memiliki karakteristik umum yang tidak mudah untuk diuji dengan teori
perspektif Barat. Artikel/jurnal ini bertujuan untuk merangsang perkembangan
teori public relations dengan menghadirkan
perspektif Indonesia sebagai dasar membangun teori dalam konteks masyarakat di
Indonesia.
Di
dalam masyarakat Indonesia, public
relations dapat dilakukan dengan mengacu pada kearifan lokal masyarakat
Indonesia sendiri, sehingga dalam penerapannya tidak perlu memakai semua
prinsip yang berlaku di negara-negara Barat. Melalui teori ini, tradisi lokal
dan norma moral dalam suatu negara dapat dijaga, walaupun negara itu sendiri
sedang bertransformasi menuju gaya hidup dan ekonomi Barat. Dengan memakai
teori ini, proses teori dan praktek yang kebarat-baratan tersebut dapat
dibatasi, sehingga dapat tercipta tatanan global yang menghormati kearifan
lokal dan lebih bervariasi; tidak berkutat pada satu teori saja, yaitu teori
dengan perspektif Barat.
Umumnya,
Indonesia mempunyai karakteristik yang hampir sama dengan budaya Asia.
Masyarakat Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda-beda karena Indonesia
juga mempunyai banyak suku. Dalam jurnal ini, penulis mengungkap kesamaan
dengan menjelaskan dua contoh kearifan lokal di Indonesia. Pertama, Indonesia
menempatkan iman untuk mengikuti jalan kebenaran. Agama adalah saluran untuk
mencapai keharmonisan/kebahagiaan sejati. Secara filosofis, harmoni adalah
bahwa manusia harus berjalan dalam jalan yang benar dengan status yang seimbang
yaitu sebagai makhluk Allah dan makhluk independen. Kedua, perasaan seseorang
tentang sesuatu atau situasi tertentu tidak lepas dari bagaimana interaksi
mereka dengan orang lain, yaitu komunikasi dipandang sebagai suatu proses yang
interdependensi/saling berhubungan antara manusia dengan alam. Maka dari itu
pola dan perilaku komunikasi yang bisa mengganggu harmoni dalam masyarakat
perlu dihindari.
Berikut
adalah dominasi perspektif Barat akan teori public
relations di Asia/negara Timur disebabkan oleh lima faktor menurut
Kriyantono dan McKenna (2017):
1.
Pengaruh
kolonisasi yang mendalam yang disebabkan terlambatnya pendidikan masyarakat
pribumi karena penjajahan. Kolonisasi memberikan pengaruh besar bagi masyarakat
Indonesia, yaitu membuat masyarakat Indonesia mempunyai kerangka berpikir
dengan pola Barat (Achmad, 2012, dikutip di Kriyantono & McKenna 2017).
2.
Kebebasan
berbicara dilarang pada masa pemerintahan otoriter rezim Soekarno dan Soeharto.
3.
Sangat
sedikitnya publikasi studi internasional public
relations dengan perspektif Indonesia (Hobart, 2006; Kriyantono, 2014;
Raharjo, 2013, dikutip di Kriyantono & McKenna, 2017), yang mengakibatkan
Indonesia tidak mempunyai dasar umum untuk teori komunikasi.
4.
Bahasa Inggris
adalah Bahasa dominan yang digunakan dalam penelitian komunikasi.
5.
Banyak orang
terpelajar Indonesia yang bersekolah di luar negeri yaitu Amerika Serikat,
Australia, Inggris, Perancis, German, dan mereka akhirnya sudah terpengaruh oleh
teori dengan perspektif Barat (Kriyantono & McKenna, 2017).
Dengan
kata lain, perspektif Barat telah mempengaruhi perspektif lokal melalui
edukasi, hiburan (entertainment), dan
teknologi komunikasi. Dalam kegiatan public
relations, kearifan lokal lah yang harus menjadi dasar dalam mengembangkan Corporate Social Responsibility (CSR)
sebuah perusahaan kepada masyarakat, yaitu dengan melakukan kegiatan yang
berguna dan bermakna bagi masyarakat.
Kearifan
kolak terwujud dalam bentuk budaya lokal yaitu seperti artefak, mitos, dongeng,
kepercayaan, kegiatan sosial dan norma-norma dalam masyarakat. Masyarakat
Indonesia memiliki budaya atau kebiasaan yang didapat dari kegiatan sosial
bersama, misalnya acara selametan, arisan, dan gotong royong. Dari kearifan
lokal ini, maka organisasi harus bisa dibangun sebagai dasra kebersamaan dan
kerja sama dan didasari kedekatan hubungan antar anggotanya. Bisa dibilang
bahwa karifan lokal di Indonesia ini adalah panduan komunikasi dan interaksi
masyarakat Indonesia. Kearifan lokal bersifat empiris dan merupakan panduan
pragmatis untuk memecahkan masalah.
Berikut
adalah konsep kegiatan public relations yang
sesuai dengan konsep kearifan lokal dan relevan dengan budaya Indonesia dan
juga sudah ada sejak lama yang saya temukan dalam jurnal ini:
1.
Musyawarah
mufakat yang digunakan sebagai pengambilan keputusan di Indonesia
Kearifan lokal
Indonesia konsisten dengan two-way
symmetric model, yaitu satu dari pihak organisasi, kedua dari pihak publik.
Public relations bertugas sebagai
perantara antara organisasi dengan apa yang menjadi kebutuhan publik. Fungsi
komunikasi digunakan sebagai alat negosiasi dan kompromisasi untuk membuat
solusi yang menghasilkan kepuasan secara mutual. Musyawarah mufakat merupakan langakah
pengambilan keputusan melalui dialog.
2.
Mempertahankan mutual relationship berdasarkan harmoni
pada sistem
Dengan
mempertahankan mutual relationship maka
PR bisa menjalin relasi yang baik dan berjalan lama. Maka dengan begitu akan
muncul loyalitas.
3.
Perspektif
Indonesia untuk menyatakan kebenaran
Dengan
menyajikan dan memberikan informasi yang benar, jujur, dan terbuka, seuah
organisasi akan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi. Selain itu
juga berguna untuk mendapatkan kepercayaan publik yang akan membuat publik mau
mendukung dan bekerjasama.
4.
Blusukan sebagai
alat untuk komunikasi
Blusukan membuat
masyarakat merasa dipedulikan dan dihargai oleh organisasi. Dengan begitu, hal
ini merupakan usaha organisasi untuk mengetahui publiknya secara dekat dan
berinteraksi langsung (Kriyantono & McKenna, 2017).
Praktisi
public relations di negara Timur
memasukkan unsur kearifan lokal sebagai patokan dalam pembuatan program dan
pelaksanaan program PR untuk masyarakat. Tidak lupa pula bahwa PR adalah
seorang yang harus bisa menjadi pembuat keputusan (decision making) untuk organisasi yang diwakilinya. Indonesia
memiliki banyak budaya dan adat yang perlu diperhatikan oleh praktisi PR agar
program sesuai dengan publiknya.
Dengan
ini bisa diartikan bahwa public relations
mempunyai dua fungsi yaitu pertama, PR sebagai fungsi manajemen, kedua, PR
bertanggung jawab untuk mengelola hubungan antara organisasi dan publiknya.
Dalam mengelola hubungan dengan publiknya, public
relations harus mempertahankan dan membentuk citra positif. Praktik public relations bisa diterapkan dengan
cara di atas (musyawarah, mempertahankan mutual
relationship, memberika informasi yang benar, dan blusukan).
DAFTAR PUSTAKA
Kriyantono, R. &
McKenna B. (2017). Developing a
Culturally-Relevant Public Relations Theory for Indonesia. Malaysian
Journal of Communication, Jilid 33(1) 2017: 1-16.
RESUME BUKU TEORI PUBLIC RELATIONS PERSPEKTIF BARAT & LOKAL (APLIKASI PENELITIAN DAN PRAKTIK)
Monday, 10 April 2017 | 17:19 | 0 chocolate
Silvia Aria Widyaningrum
155120201111079
A.KOM.PR-4
RESUME
BUKU TEORI PUBLIC RELATIONS PERSPEKTIF BARAT & LOKAL (APLIKASI PENELITIAN
DAN PRAKTIK)
TEORI
SISTEM, BOUNDARY SPANNING, TEORI RELATIONSHIP MANAGEMENT
1. Teori sistem
Manusia dalam kesehariannya melakukan interaksi
sosial. Interaksi sosial yang dilakukan menghasilkan hubungan sosial. “Teori
sistem menjelaskan esensi dasar kehidupan, yaitu pentingnya menjalin hubungan
sosial. Menjalin hubungan sosial yang baik merupakan hasil (output) dari suatu
interaksi sosial, dalam hal ini yaitu interaksi antara organisasi dan publiknya”
(Kriyantono, 2014, h. 77). Saat teori sistem dipakai dalam organisasi, maka
organisasi adalah suatu subsistem dalam sistem sosial yang ada dan lebih
kompleks. Organisasi menyesuaikan diri pada lingkungannya, jika lingkungannya
berubah maka organisasi mengikuti. Teori sistem fokus pada kualitas komunikasi
yang dijalankan pada sistem dengan sistem-sistem lainnya.
Seperti tubuh manusia, teori sistem juga memerlukan
keterhubungan antar semua elemen dalam suatu sistem. Teori sistem kemudian
diadaptasi oleh teori excellence dan
menjadi dasar teori excellence. Teori
sistem berguna untuk memahami proses public
relations. Menurut Kriyantono (2014, h. 78), teori ini tidak fokus kepada
pesan yang secara strategis diperlukan dalam penyesuaian lingkungan, sehingga
informasi dapat mengalir dan relasi dapat terjadi secara seimbang.
Dalam teori sistem, organisasi dianggap sebagai
suatu sistem dan di dalamnya terdapat interaksi sosial antara satu elemen
dengan elemen yang lain. Kreps (1990, h. 94, dikutip di Kriyantono, 2014, h.
79) mengatakan bahwa interaksi dalam organisasi digunakan untuk menyesuaikan
dan beradaptasi dengan lingkungannya, pencapaian tujuan organisasi bergantung
pada kemampuan organisasi beradaptasi sesuai lingkungannya. Elemen dalam
organisasi yang menjadi kunci kualitas organisasi adalah individu, struktur,
kelompok fungsional, dan teknologi serta peralatan. Elemen tersebut merupakan
sumber daya yang ada dalam suatu organisasi. Organisasi perlu untuk mengelola
dan memproses input agar output yang dikeluarkan sesuai dengan tujuan
organisasi. Interaksi yang baik diperlukan untuk memproses hal tersebut, dengan
komunikasi sebagai kuncinya. Komunikasi dapat menciptakan proses kerja sama
yang baik dalam organisasi, sehingga proses pengoordinasian dapat berjalan
dengan baik dan tujuan organisasi bisa tercapai. Public relations dapat menggunakan teori sistem sebagai acuan untuk
membantu mereka dalam memanajemen dan mengelola komunikasi dalam manajemen
untuk membantu interaksi antara organisasi dan publiknya. Public relations berlaku sebagai fungsi komunikasi dalam organisasi.
2. Boundary
Spanning
Dalam
praktiknya, “Public relations mempunyai
fungsi sebagai penghubung antara organisasi dengan lingkungannya” (Kriyantono,
2014, h. 86), yang kemudian dikenal dengan istilah “boundary spanning”. Fungsi boundary
spanning membantu public relations untuk
mengumpulkan informasi yang diperoleh dari lingkungannya. Dalam organisasi
pasti ada kelompok dominan (kelompok yang mempunyai pengaruh pada organisasi, public relations masuk di dalamnya) dan
bertugas sebagai pembuat keputusan dalam organisasi. Pengambilan keputusan
dalam organisasi memerlukan informasi yang didapat dari lingkungan organisasi
tersebut. Boundary spanning juga
berfungsi sebagai sarana public relations
dalam memberikan informasi organisasi kepada publiknya. Boundary spanning digambarkan sebagai
batasan yang memutar antara organisasi dan publiknya, yaitu organisasi
memberikan informasi organisasi kepada publik, dan publik juga mempunyai
informasi yang kemudian dimonitor oleh public
relations untuk membuat keputusan dalam organisasi agar organisasi bisa
menjadi lebih baik. Maka dari itu boundary
spanning membentuk komunikasi dua arah antara organisasi dan publiknya.
Menurut
Kriyantono (2014, h. 87), aktivitas public
relations dalam melaksanakan fungsi boundary
spanning mencakup:
·
Public
relations dalam menjelaskan informasi organisasi kepada
publiknya. Hal ini dilakukan oleh praktisi public
relations untuk menghindari kesalahpahaman dalam persepsi publik kepada
organisasi. Informasi yang dibagikan mencakup filosofi, kebijakan, program, dana
pa yang dipikirkan manajemen.
·
Public
relations dalam memonitor lingkungannya (publik) untuk
mengetahui isu-isu apa saja yang ada di lingkungan yang dapat mempengaruhi
aktivitas organisasi, kemudian public
relations mengidentifikasi dan memecahkan permasalahan yang muncul.
·
Public
relations dalam membangun komunikasi dua arah.
3. Teori Relationship Management
Fokus
teori ini yaitu membahas proses manajemen relasi antara organisasi dan
publiknya, baik secara internal maupun eksternal. Terdapat keseimbangan
kepentingan antara publik dan organisasi. Teori ini juga dikenal sebagai teori organizational-public relationship (OPR).
Teori manajemen relasi ini menurut Gregory (2005, dikutip di Phillips, 2003, h.
213, dikutip di Kriyantono, 2014, h. 277) merupakan “upaya organisasi membangun
relasi dengan publiknya untuk menciptakan relasi yang positif dalam dua arah
(organisasi ke publik dan publik ke organisasi).” Relasi merupakan fokus inti
dari teori ini. Aktivitas public
relations fokus pada relasi organisasi dengan publiknya. “Dalam proses
relasi terdapat pertukaran persepsi, atribut, dan identitas yang berbeda, dan
antara organisasi dan public dimungkinkan slaing memengatuhi. Tetapi proses
pertukaran ini tetap diimbangi semangat empati, kesepahaman, dan berusaha
saling menguntungkan” (Kriyantono, 2014, h. 277). Adanya kesepahaman dalam
hubungan atau relasi antara organisasi dengan publik merupakan hal yang baik
karena kemudian relasi bisa dilakukan jangka panjang, persepsi publik yang
positif, loyalitas publik kepada organisasi, dll.
Berikut
prinsip dasar dalam membangun relasi dengan public menurut Ledingham (2005, h.
742-743, dikutip di Kriyantono, 2014, h. 278):
1. Fokus
utama public relations yaitu
membangun relasi.
2. Relasi
yang berhasil jika didasarkan upaya meraih keuntungan bagi kedua pihak,
organisasi dan publik.
3. Organization-public relationships bersifat
dinamis sehingga selalu berubah setiap saat.
4. Relasi
didorong kebutuhan dan keinginan dari organisasi dan publik. Kualitas relasi tergantung
pada persepsi terhadap tingkatan sejauh mana harapan dapat dipenuhi.
5. Manajemen
OPR yang efektif akan meningkatkan pemahaman dan keuntungan bagi organisasi dan
publik.
6. Keberhasilan
OPR diukur berdasarkan kualitas relasi, bukan produksi dan penyebaran pesan.
7. Komunikasi
yaitu lat strategi memanajemen relasi, tetapi komunikai tidak dapat menjaga
relasi jangka panjang tanpa diiringi perilaku organisasi.
8. OPR
dipengaruhi oelh sejarah relasi, sifat interaksi, frekuensi pertukaran, dan
resiprositas (timbal balik).
9. OPR
dikategorisasikan ke dalam beberapa jenis, yaitu relasi personal (interaksi
personal antara perwakilan organisasi dan anggota publik), relasi professional (interaksi
yang terjadi karena alasan keprofesionalan), relasi komunitas (relasi yang
didasarkan persepsi bahwa organisasi mendukung kepentingan komunitas), baik
bersifat simbolis (communication driven)
maupun perilaku (program driven).
10. Penciptaan
relasi dapat terjadi dalam berbagai aspek kajian dan praktik public relations.
TEORI
MATHEMATICAL OF INFORMATION, TEORI UNCERTAINTY REDUCTION
1. Teori Mathematical of Information
Teori
ini menggambarkan proses komunikasi linier antara komunikan dan komunikator. Model ini mempunyai konsep yang saling
berkaitan, yang diperkenalkan oleh Shannon dan Weaver, yaitu konsep gangguan
(noise), transmitter, sumber (source), signal, receiver, destination, entropi,
dan informasi (Kriyantono, 2014).
2. Teori Uncertainty Reduction
Teori
ini menyatakan bahwa hidup itu penuh dengan ambiguitas. Teori ini menjelaskan
bagaimana mengurangi ketidakpastian melalui komunikasi, dengan memahami orang
lain dan diri sendiri, dan membuat prediksi tentang perilaku orang lain saat
pertama kali bertemu dengan orang itu.
Seseorang
memerlukan informasi untuk mengurangi ketidakpastiannya. Berdasarkan pendapat
Berger (1979, dikutip di Flanagin, 2007; Hammer,dkk., 1998, dikutip di
Kriyantono, 2014, h. 144) berikut adalah beberapa cara untuk mengurangi
ketidakpastian, yaitu:
1. Strategi
Pasif (social comparison)
Strategi ini terjadi jika seseorang
hanya mengamati perilaku orang lain.
2. Strategi
Aktif ( seeking information)
Jika seseorang aktif mencari
informasi tentang orang lain melalui pihak ketiga, misal bertanya kepada si Z
tentang I.
3. Startegi
interaktif ( verbal interrogative)
Cara mendapatkan informasi melalui
setting interaksi, yaitu dengan secara langsung bertanya dengan orag ynag mejdi
target komunikan.
Informasi
adalah kunci untuk menguragi ketidakpastian atau keragu-raguan akan situasi
tertentu. Praktisi public relations perlu
menampilkan citra yang positif untuk organisasinya. Informasi yang diberikan
kepada publik akan organisasi haris lengakap dan tidak sepotong-potong agar
tidak menimbulkan pemahaman yang keliru atau ambigu.
TEORI
EXCELLENCE IN PUBLIC RELATIONS, TEORI
CONTINGENCY OF ACCOMMODATION IN PUBLIC
RELATIONS
1. Teori Excellence in Public Relations
Teori
ini menjelaskan bahwa semakin baik seorang praktisi PR, maka semakin excellence pula perusahaan atau
organisasinya. Dalam teori ini dijelaskan karakter organisaso dalam model
asimetris dan simetris. Model asimetris membuka komunikasi dua arah dengan
mengubah opini publik dari tidak setuju menjadi setuju dengan tidak merubah
program public relations nya,
melainkan mengumpulkan berbagai informasi dan membuat startegi sehingga public menjadi
setuju. Berbeda dengan model simetris, model ini setuju dengan opini publiknya,
sehingga akan mengintrospeksi program yang dibuat lalu merubah program
sebelumnya. Teori excellence mensyaratkan
agar organisasi berkeinginan mengubah perilakunya dan manajer public relations harus menjadi bagian
dari proses pengambilan keputusan dalam organisasi (Kriyantono, 2014, h. 105).
2. Teori Contingency of Accommodation in Public Relations
Teori
contingency of accommodation in public
relations (CA) berkembang sebagai kritik atas model two-way symmetric pada teori excellence
dalam public relations
(Kriyantono, 2014). CA dianggap merupakan potret yang lebih relaistis dari
strategi atau model PR. Menurut teori CA, win-win
solutions yang ditawarkan model two-way
symmetric tidak selamanya menjamin kondisi ideal bagi organisasi. Teori ini
secara umu menjelaskan hubungan organisasi dengan publiknya yang tidak dapat
benar-benar mencapai model two-way symmetric.
Akomodasi diartikan sebagai penyesuaian diri terhadap lingkungan, advokasi
diartikan sebagai upaya memberikan dukungan atau pembelaan terhadap kebijakan
organisasi.
SITUASIONAL
THEORY OF THE PUBLICS, STAKEDOLDER THEORY
1. Situasional Theory of the Publics
“Teori
ini bermanfaat untuk mengidentifikasi publik sehingga dapat membuat kategori publik
sehingga dapat membuat kategori publik berdasarkan perilaku komunikasi dari
individu dan efek komunikasi yang diterima individu tersebut” (Kriyantono,
2014, h. 152). Teori situasional ini membantu public relations untuk membuat target sasaran yang lebh spesifik,
sehingga pesan komunikasinya benar-benar sesuai dengan kebutuhan sasaran. Secara
umu, teori situasionak ini mendeskripsikan tentang sikap sreta perilaku
komunikasi dari public terhadap organisasi.
Teori
ini dapat membantu praktisi public
relations mengkalsifikasikan public berdasarkan persepsi, ide, sikap,
perilaku terhadap organisasi baik terhadap program, produk, maupun ketika
terjadi situasi kritis. “Teori ini membantu praktisi public relations untuk menjelasakan mengapa ada publik yang
bersifat aktif terhadap satu isu, publik yang lain bersifat aktif terhadap
beberapa isu, da nada yang tidak mau tahu. Praktisi public relations dapat merencanakan strategi komunikasinya lebih
akurat dan efektif jika mengetahui seberapa aktif publik dalam mencari
informasi” (Lattimore, dkk., 2007, dikutip di Kriyantono, 2014, h. 160). Teori
STP dapat dijadikan acuan untuk bersikap lebih etis dalam melaksanakan
kampanye.
2. Stakeholder
Theory
“Teori
stakeholder memebrikan pengetahuan
teoritis dasar bagi praktisi public
relations untuk memahami bagaimana individu, kelompok, dan organisasi
eksternal memengaruhi aktivitas organisasi tempat dia bekerja” (Kriyantono,
2014, h. 57). Teori ini membahas tentang bagaimana organisasi membangun relasi
dengan publik di sekitar organisasi dan terkait dengan orgaisasi. Dengan melaksanakan
tanggung jawab sosialnya organisasi dimungkinkan memperoleh keuntungan.
Perspektif
public relations, mengutip Bussy
(2008: 4816), Mainardes, dkk. (2011:233) Heath (2005:809), dan Pesqueux 7
Damak-Ayadi (2005: 9), teori stakeholder sering digunakan dalam tiga pendekatan
teori (dikutip di Kriyantono, 2014, h. 58):
1. Teori
stakeholder deskriptif, yaitu untuk
mendeskripsikan karakteristik dan perilaku atau aktivitas actual yang dikerjakan
organisasi.
2. Teori
stakeholder instrumental, yaitu
memahami cara mencapai tujuan organisasi, yaitu keterkaitan antara strategi
manajemen stakeholder dan pencapaian tujuan organisasi seperti meningkatkan
organisasi seperti meningkatkan keuntungan, menghindari tuntutan hokum, dan
mencapai pertumbuhan.
3. Teori stakeholder
normatif, yaitu untuk merancang suatu regulasi tata cara membangun relasi yang
didasarkan landasan etis dan prinsip filosofis organisasi, seperti
mengembangkan tanggung jawab organisasi.
TEORI
MOTIVASI DAN GAYA MANAJERIAL, TEORI STRUKTURASI
1. Teori Motivasi dan Gaya Manajerial
Proses
komunikasi menjadi unsur utama dalam sebuah organisasi. Perlu pemahaman
manajerial dalam proses komunikasi pada teori motivasi. “Motivasi secara
sederhana dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk
melakukan tindakan tertentu” (Kriyantono, 2014, h. 243). Kemampun memotivasi diperlukan
seorang praktisi PR agar karyawan dapat melaksanakan apa yang diperintahkan dan
menjalankan tugasnya dengan baik.
Dalam
teori hierarki kebutuhan menurut Abraham Moslow, karyawan akan merasa
termotivasi apabila semua kebutuhannya telah terpenuhi, dengan begitu kinerja
karyawan pun akan semakin baik. Hierarki kebutuhan: (1) kebutuhan fisiologis,
(2) kebutuhan keselamatan atau rasa aman, (3) Kebutuhan sosial, (4) kebutuhan
akan penghargaan diri (self-esteem),
(5) kebutuhan akan aktualisasi diri, kebutuhan untuk mengekspresikan diri,
kebutuhan untuk berprestasi.
Douglas
McGregor (1967, dikutip di Kriyantono, 2014, h. 244) mengenalkan dua macam
teori tentang motivasi yaitu teori X dan teori Y. Teori X berasumsi bahwa
setiap individu mempunyai pembawaan sifat yang malas, tidak termotivasi untuk
bekerja, karena itu pemberian motivasi dari pihak luar sangatlah diperlukan,
misalnya uang sebagai alat motivasi. Berbeda dengan teori X, teori Y berasumsi
bahwa individu secara alami mempunyai keinginan untuk bekerja. “Manajer yang
menganut teori Y akan beraggaoan bahwa karyawan mempunyai kebutuhan yang
beraneka ragam. Tugas manajer yaitu mengatur dan mengelola jalannya organisasi
sedemikian rupa, sehingga baik organisasi maupun anggotanya dapat terpenuhi
kebutuhannya” (Kriyantono, 2014, h. 245).
Teori
V memandang proses manajerial sebagai proses relasi secara dua arah. “Proses
ini terjadi bila tujuan dari manajer diarahkan untuk dan dieksekusi dalam
tindakan karyawan” (Kriyantono, 2014, h. 246). Dalam teori V ini, manajer dan
karyawan mempunyai peran yang sama, artinya jika satu tidak ada yang lain juga
tidak ada. “Manajemen merupakan hubungan segitiga antara manajer, proses
mengelola (managing), dan yang dikelola (manage). Hubungan ini dinyatakan dalam
rumus teori V” (Kriyantono, 2014, h. 246):
Proses manajemen yang dinamis (V) yaitu suatu fungsi manajer sebagai subjek
(M) mengarahkan (D) karyawan (manage)
sebagai objek (m) untuk mengaktualisasikan (a) maksud dari manajer tadi.
Berikut merupakan empat gaya manajerial yang digagas
oleh Likert (Kriyantono, 2014, h. 247-250):
1.
Sistem 1 : Gaya
penguasa mutlak (the exploitative
authoritative)
2.
Sistem 2 : Gaya
semi mutlak ( the benevolent
authoritative system)
3.
Sistem 3 : Gaya
penasihat ( the consultative system)
4.
Sistem 4 : Gaya
pengajak serta (the participative
management system)
Sana=gat penting bagi seorang praktisi
PR untuk memahami apa yang menjadi motivasi karyawannya. Dengan begitu tugas publis relations selanjutnya adalah:
1.
Memahami apakah
kebutuhan sudah terpenuhi atau belum, seberapa besar terpenuhinya, kondisi apa
yang menjadi kendala.
2.
Public relations menyampaikan
kebutuhan karyawannya kepada pihak manajemen.
3.
Merancang programkomunikasi
yang bisa mendorong peningkatan motivasi karyawan.
4.
Mendorong ikim
komunikasi organisasi yang kondusif.
2. Teori Strukturasi
Individu
mempunyai kemampuan untuk megubah struktur sosial. “Struktur yaitu
aturan-aturan tertulis atau tidak, formal atau tidak, dan sumber daya yang
digunakan menjaga keberlangsungan kelompok atau organisasi” (Kriyantono, 2014,
h. 234). Norma kelompok, jaringan komunikasi, aturan pergaulan dapat
mempengaruhi perubahan struktur yang ada sebelumnya. Proses memproduksi dan
mereproduksi strukrtur disebut strukturasi. Sistem sosial adalah hasil dari
perilaku komunikasi individu dan struktur sosial perilaku sosial. Teori strukturasi
kemudian dipakai untuk menerangkan proses komunikasi dalam organisasi. Di dalam
organisasi pastilah ada struktur, struktur tersebut bisa berbentuk divisi,
deskripsi pekerjaan, hierarki, dll.
Meski
sama-sama mengkaji organisasi, teori strukturasi memiliki definisi yang berbeda
tentang sistem dengan teori sistem. “Menurut teori strukturasi, “suatu sistem
bukanlah berarti sistem dari objek (seperti bagian-bagian mesin mobil),
melainkan sestem di sini berarti sistem dari “human practices”, yaitu pola aktivitas yang mempunyai makna bagi
orang-orang yang ada di dalamnya yang mengorganisasi aktivitas-aktivitas
orang-orang itu dalam menjalin relasi satu dengan lainnya” (Poole & McPhee,
2005, h. 174, dikutip di Kriyantono, 2014, h. 235). Organisasi sifatnya
dinamis, maka dari itu struktur sifatnya juga tidak permanen.
Teori
struturasi dalam praktik public relations,
intinya bahwa organisasi berpandangan bahwa anggota dan struktur nya dinamis. Struktur
harus dievaluasi. Proses public relations
dipandang sebagai proses yang mendukung semua level di dalam organisasi,
tujuannya adalah untuk memberi peluang anggota untuk mengkonstruksi realitas
sosial sehingga menciptakan pengertian bersama. “Peran praktisi yaitu
mengakomodasi dan mengarahkan proses strukturasi agar tidak melenceng dari
tujuan organisasi” (Kriyantono, 2014, h. 241).
DAFTAR
PUSTAKA
Kriyantono, R. (2014). Teori Public Relations Perspektif Barat & Lokal. Jakarta:
Kencana Prenadamedia.
|